>

target="_blank">Efek Blog

Selasa, 16 Februari 2016

Senja Tanpa Nyawa



Lelah kesah gundah mendesah...
Serabut wajah buram menyata namun terbias,
Mendekat hidup namun mematikan jiwa,
Asa merangkul menghempas ego.
Sejatinya, adakah kelu itu tenggelam tawa
Tidak, karna kebohongan kini mulai meraja
Bejana murka bertahta bermandikan permata
Miskin hati terinjak dengki
Kaya rasa berlumur nanah luka menganga,
Hanya aku, tangis dan penyesalan masalalu
Kejadian berulang tak lelah berputar
Misteri yang terus terjadi di akhir sepi
Sekat tipis hidup dan mati kini tak ada lagi
Aku hidup dalam bangkai hati yang tercabik
Aku mati di atas ragaku yang berselimut senyum simpul belati ...

Selasa, 29 September 2015

Jika sudah beda, bagaimana bisa bersama?

Jika selera musik kita berbeda, bagaimana kita bisa duduk di taman berdua sambil berbagi alunan nada.
Jika makanan yang kita sukai berbeda, bagaimana kita menikmati makan malam sederhana sepiring berdua.
Jika jenis film yang kita suka berbeda, bagaimana aku bisa menyandarkan kepala di bahumu sambil menonton tayangan yg membuat haru biru, tertawa, kaget, dan bahkan menangis bersama.
Ayolah come on, logikanya... Jika semua itu beda, kita masih dapat menyatukannya... Salah satu diantara kita harus ada yang mengalah agar bisa bersatu,
Tanpa paksaan, mungkin satu diantara kita harus beradaptasi dengan alunan musik, selanjutnya gantian, satunya mengalah dalam selera makan atau film yang akan di tonton bersama... Saling, bukan hanya memaksakan kehendak untuk selalu di laksanakan permintaannya,
Intinya dalam sebuah hubungan adalah timbal balik, memberi dan menerima.. Bukan semata ingin menerima tanpa memberi...
Tapi pertanyaannya,
Jika tujuan kita beda, bagaimana kita bisa berjalan dengan arah yang sama ?!
Sekalipun kita bertemu di penghujung jalan, salah satu diantara kita akan ada yg berjalan kedepan dan meninggalkan, dan yang satunya berjalan pincang ke arah yang berlawanan.
Iya, kita berbeda. Karna ego kita yang sama.
Aku menuntut ingin di mengerti, begitu hal nya dengan kamu, tapi kita tidak bisa saling mengerti.
Ego kita yang sama, sehingga membuat apapun yang beda di antara kita tidak bisa lagi di pesatukan.
Apa masih ada tenaga untuk kita berusaha bersama, sedangkan aku sudah mulai lelah dan meronta untuk menyerah,
Tapi kamu, dengan smua egomu, menarikku kasar untuk tetap melanjutkan perjalan...
Ayolah, akhiri sampai disini saja pendakian kita, kamu... Lanjutkan mimpimu tentang kita, aku lelah... Izinkan aku beristirahat seorang diri.
Jika mungkin, aku akan menyusulmu, dan kembali ke titik dimana kita bisa kembali bersama diatas semua beda.

Selamat Ulang Tahun Diriku.

30 September, Tepat di hari ini 22 Tahun berlalu sejak bayi perempuan itu terlahir...
Namanya indri, nama yang sederhana untuk hidupnya yang sederhana.
Segala macam hal, baik dan buruk silih berganti mengiringi kedewasaannya.
Dan di hari ini, segala macam ucapan selamat di hujani dari keluarga, sahabat, maupun orang-orang terdekat, berbagai doa teralun dalam rangkaian kata lewat berbagai media,
Tapi sesungguhnya, orang yang paling tulus mencintaiku namun sering terabaikan adalah diriku sendiri.
Karena itu, detik ini kusampaikan selamat ulang tahun untuk diriku sendiri...
Untuk kaki yang sebelumnya melangkah pelan dan berulangkali jatuh saatku belajar jalan sampai saat ini mampu berlari menggapai mimpi...
Untuk mulut yang dahulu terbata mengucapkan kata demi kata, kini berbicara cepat bahkan tanpa titik koma saat mengutarakan apa yang aku fiqirkan.
Untuk mata yang melihat dari semua hal di dunia dari yang tidak mengetahui apa-apa, hingga jelas memandang dengan tatapan siap menantang masa depan.
Selamat ulang tahun diriku...
Jadilah pribadi yang lebih baik dari hari ini,
Berhentilah bersikap kekanakan dengan segala tingkah manjamu,
Berhentilah cengeng dalam menghadapi pahit
Keras hidup ini,
Mulailah berfikir dewasa kedepannya tanpa bergantung dengan orang lain.
Buktikan pada orang tuamu, gadis kecil nya dulu kini tlah beranjak dewasa walau belum bisa membuat mereka bangga tapi kau harus terus berusaha.
Untukmu tuhanku, pemilik segala diri berserta isi hati, terimakasih telah memberikanku kesempatan untuk bisa bernafas dan membuka mata sampai umurku saat ini,
Terimakasih untuk segala nikmat yang kerap kali lupa ku syukuri.

Senin, 28 September 2015

Long Distance Realitionship, Serumit itukah?

LDR kerap tak terhindarkan ketika kamu dan pasangan sedang menjalin hubungan. Saling ingin menyulam jaring cita-cita dan menyusun balok mimpi tinggi-tinggi membuat kamu dan dia harus berjuang dengan keberadaan jarak yang nyata. Namun sebenarnya LDR tak melulu membawa dampak negatif kok, terkadang justru kebaikan juga mampu hadir di tengah kalian.
LDR itu juga soal mimpi. Dalam perjuangan ini mimpi yang tercapai akan terasa lebih manis lagi
Terkadang LDR memang tak bisa dihindari, kamu dan pasangan sama-sama dipaksa untuk harus memperjuangkan cita-cita masing-masing. Kamu sedang menyusun pondasi karir di kota seberang sementara pasangan juga sedang mencari kesuksesannya di tanah rantau. Ingatlah bahwa bukan berarti kamu dan dia egois, justru inilah tanda bahwa kalian merupakan pribadi yang pekerja keras.
Tak melulu hanya memperjuangkan tentang cinta, kamu dan pasangan juga sedang bergulat untuk memperjuangkan cita-cita masing-masing. Bukankah jika nantinya mimpi kalian tergenapi, kehidupan kalian akan jadi lebih baik lagi? Yakini bahwa cita-cita yang sedang kalian perjuangkan ini juga bisa membawa dampak positif bagi hubunganmu dan pasangan.
Rasa rindu dan ingin bertemu pasti ada. Tapi kalian justru akan makit setelahnya.
Menjalani hubungan jarak jauh memang tak mudah. Dibutuhkan mental baja, kesabaran tak terhingga, dan keberanian untuk menginjak ego hingga batas terendah. Bahkan, bukan tak mungkin kehadiran jarak yang nyata membuatmu dan pasangan sering terlibat pertengkaran hanya karena kesalahpahaman.
Terkadang kamu dan pasangan pun mungkin sudah lelah. Jengah dengan keadaan yang membuat kalian tak bisa tiap saat bertatap muka ketika sedang rindu-rindunya. Namun, bukankah ini merupakan penempaan termanis yang bisa kalian dapatkan? Kesabaran menunggu serta mampu menekan ego sanggup menjadikan kalian pribadi yang lebih baik lagi. Jarak justru bisa membuat hubungan kalian kian kuat di masa depan.
Dalam ikatan ini rasa bosan jarang melanda. Setiap bertemu kalian malah yakin kalau ini memang cinta
Tak bisa tiap saat bertatap muka dan harus lihai menahan rasa rindu merupakan makanan kalian tiap hari. Namun, sebenarnya justru ada kebaikan di baliknya. Kamu dan pasangan yang dipisahkan oleh jarak justru mampu belajar untuk membangun komunikasi yang lebih baik lagi. Bahkan, karena tak melulu bertemu saban hari, kamu dan dia pun tak dilibat rasa jemu seperti pasangan lainnya. Saat-saat bertemu kalian selalu terasa istimewa. Selalu ada kesadaran betapa kamu mencintai pasangan di hari pertemuan kalian tiba.
Jika memilih menyerah maka perjuangan kalian akan sia-sia. Mimpi yang menjadi patokan bersama pun jadi kadaluwarsa.
Perjuangan kalian tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Harus rela bersabar setiap dihajar rasa rindu, tak bisa selalu bersama seperti pacaran ada umumnya, hingga wajib saling mengalah jika tak ingin terlibat kesalahpahaman. Permasalahan bisa dipastikan akan menyelinap diam-diam di dalam hubungan kalian.
Namun, jika kalian memutuskan untuk berhenti berjuang sekarang maka perjuangan kalian yang sudah-sudah akan sia-sia. Impian yang sudah dianyam bersama dan dijadikan patokan berdua pun akan menjadi kadaluwarsa. Bukankah kamu dan dia tak menginginkan hal ini terjadi? Maka, untuk apa menyerah sekarang jika memang masih bisa diperjuangkan?
Menahan rindu hingga menanti waktu pertemuan kalian tiap beberapa bulan sekali, hal inilah yang justru membuat rasa cinta kalian makin tebal dari hari ke hari.
Tak sekedar rindu yang makin menggembung jumlahnya, timbunan rasa cinta yang kamu dan dia rasakan juga makin tebal dari hari ke hari. Inilah salah satu dari banyaknya manfaat menjalin hubungan jarak jauh bersama pasangan. Jarak yang nyata justru akan menyadarkanmu betapa berartinya ketika pasangan tak ada di sisi. Hal ini makin membuatmu menyadari betapa berharganya dia dan tanpa disadari kadar cinta yang kalian miliki akan makin bertambah dari hari ke hari.

Jatuh bangun kalian akan terbayar lunas pada saatnya. Memilih tetap bertahan adalah pilihan terbaik yang kalian punya
pacaran LDR
Sungguh, perjuangan kalian tak sia-sia. Suatu saat nanti apa yang kalian perjuangkan bersama ini akan terbayar lunas. Jatuh bangun kalian mungkin akan menimbulkan memar, namun justru hal itulah yang bisa dijadikan penanda bahwa kalian selama ini telah teguh berjuang. Jika kalian pernah meyakini masa depan bisa direngkuh bersama, lalu mengapa kehilangan asa sekarang?
Jangan menyerah ya para pejuang cinta, perjuangan kalian akan terbayar lunas. Segera! :)

Minggu, 27 September 2015

Oy, Hati Bukan Bus Jurusan Pulang-Pergi. Kalau Sudah Meninggalkan, Buat Apa Kembali?

Beberapa orang yang pernah bersama, jika cukup dewasa, akan tetap menjadi teman setelah berakhirnya hubungan mereka. Mereka tetap bertukar pesan setiap hari raya, mengucapkan selamat saat salah satunya menjalani hari bahagia, tak pernah terpikir untuk mendoakan mantan pasangannya petaka. Tapi kurasa bukan hanya sikap dewasa saja yang dibutuhkan jika dua orang yang pernah bersama tetap ingin berteman. Ada syarat lainnya yang harus dipenuhi: mereka berpisah tanpa ada yang merasa terkhianati. Dan dalam kasus kita, sayangnya, perpisahan yang adil tak terjadi.
Saat kau berkata kau tak lagi punya rasa, aku memang hanya diam saja. Menampakkan keterkejutan toh akan percuma: takkan membuat kita tetap bersama. Tapi kau tak tahu apa saja yang kupikirkan di dalam akal. Mana kau tahu, apa yang harus kutekan demi mendapat predikat “tegar”. Rasa sakit yang paling besar adalah yang tak tampak di permukaan.
Lalu sekarang kau kembali, seolah tak pernah sengaja melukai. Hei, kau pikir kau Tuhan yang berhak membolak-balik hati?

Siapa kau memintaku membuka pintu? Berdirilah di luar pagar — takkan kupaksa masuk dia yang pernah tak betah ada di dalamnya.
Bukannya pendendam. Hanya malas mengulang apa yang sebelumnya jelas tak berujung kebaikan. Biarpun tak suka mengungkit-ungkitnya, aku tak pernah lupa bagaimana hari-hari pertama kau memilih pergi. Bicara padamu lagi sama saja dengan memutarnya kembali — maaf, ini bukan sesuatu yang kusukai.
Butuh waktu lama sebelum aku akhirnya bisa memberanikan diri pergi ke tempat-tempat yang untuk kita dulu pernah berarti. Musik yang dulu selalu kau putar, untuk beberapa waktu selalu kuhindari. Aku melakukan “pembersihan” perlahan-lahan. Kadang hati kecil dan pikiran harus kulunakkan terlebih dulu karena ingin melawan. Untuk sampai di titik ini, butuh waktu yang tak sebentar.
Bukankah salah satu tanda bahwa seseorang sudah legawa, adalah rela membuka pintu lagi untuk orang yang pernah jadi bagian dirinya?
Kata siapa? Rumusnya tak sesederhana itu. Maaf, aku tak berhutang apapun padamu. Tak ada kewajiban buatku untuk membuka pintu. Silakan berdiri di luar pagar, tak ada gunanya kau kuundang ke dalam. Bukankah kau pernah merasa terkunci di sana dan mendesak ingin keluar?

Alasanmu untuk pergi pun tak main-main. Padaku kau sudah tak yakin — dirimu lebih memilih yang lain
Kau sendiri yang dulu memilih pergi. Aku tak pernah mengusirmu — justru sempat senang kau ada di sisi. Bukan aku di antara kita yang tiba-tiba bilang ia “tak yakin.” Bukan aku yang menutup pembicaraan malam itu dengan “Jujur, aku lebih baik pilih yang lain.” Oh, bukan aku juga yang mengatakan permisi dan berjalan keluar dengan dingin.
Perlu beribu waktu dan tenaga untuk menemukan diriku yang lama. Kini kau ingin kembali dan memperbaiki semua. Maaf, maksudnya apa?
Apakah kau merasa bersalah karena meninggalkanku mendadak dan begitu saja? Atau apakah dia yang lebih kau pilih dulu tak bersikap seperti yang kau kira? Apakah ternyata aku punya sesuatu yang tak dimiliki gadis-gadis lainnya di luar sana? Atau apa kau terbangun tiba-tiba suatu malam, lalu sadar bahwa ada dari dirimu yang kini hilang?
Aku tak tahu. Dan kurasa kini, aku tak begitu peduli.
Mungkin kau lupa, tapi hati bukan bus jurusan pulang-pergi. Kalau sudah meninggalkan, tak usah repot-repot kembali.
Mungkin kau perlu belajar dariku. Kadang kau harus bilang persetan pada masa lalu. Tak perlu menyesal kenapa dulu kau ngotot ingin meninggalkan. Lagipula, kenapa baru menyesalinya sekarang?
Aku tak tahu apa kau mengetahui hal ini, karena aku tak yakin kau punya hati. Tapi hey, hanya sekadar mengingatkan lagi: hati bukan bus jurusan pulang-pergi.
Hati terbuat bukan untuk dibolak-balikkan karena impulsi. Ia akan mengembang sempurna saat dirawat sebaik-baiknya, diberi hormat oleh pemiliknya atau kepada siapa sang pemilik menitipkannya. Setelah beberapa lama kita bersama, aku tak yakin kau punya jasa penitipan terbaik di dunia. Terima kasih, tapi lebih baik yang jadi milikku kusimpan untuk diri sendiri saja — atau setidaknya, untuk orang yang akan lebih menghargainya. Mungkin saat ini memang belum kuketahui siapa. Suatu saat nanti — ada saatnya.
Kau seharusnya tak usah repot-repot kembali. Silakan pakai sepatumu lagi, aku tak membutuhkanmu di sini.
Hidupku sudah lebih baik dibandingkan saat kau masih ada di dalamnya. Berbahagialah: kepergianmu dulu tidak sia-sia.

Hanya Hal-Hal Ini yang Bisa Dilakukan Wanita Saat Memendam Perasaan Untukmu, Lelaki Pujaan

Menjadi perempuan itu susah-susah gampang. Di satu sisi kami seperti seorang lelaki, yang bisa mengagumi dan jatuh cinta. Tapi di sisi lain, ada perangkat norma dan etika yang berbeda tentang hak untuk mengekspresikannya. Laki-laki, ketika jatuh cinta, bebas saja jika ia ingin mengutarakannya. Lain halnya dengan wanita. Masih ada ketabuan bagi seorang wanita untuk mengungkapkan cintanya kepada laki-laki.
Lalu bagaimana jika perempuan sudah terlanjur jatuh ke dalam perasaan cinta yang luar biasa membuncah? Harus menerobos dinding norma? Atau menyembunyikan perasaan itu rapat-rapat?
Inilah saat yang paling sulit bagi kami. Rasanya kami sudah tidak sanggup menahan rasa yang terkadang membuat kami serasa hampir mati ini. Tapi kami masih punya malu! Malu rasanya untuk mengungkapkan perasaan ini ke dia.
Untuk kamu lelaki yang sedang ku kagumi, inilah hal-hal yang aku lakukan selama ini untuk menyimpan perasaanku padamu. Semoga kamu mengerti..

Tahukah kamu, Aku Selalu Mengamatimu. Dari Jarak yang Dekat, Jauh, Sampai Terjauh

Perasaan ini muncul begitu saja. Aku sangat penasaran siapa dirimu, apa hobimu, darimana asal-usulmu, siapa teman-temanmu, dan jomblo kah kamu. Tapi sayang, aku tidak mungkin bertanya secara langsung kepadamu. Aku hanya bisa mengumpulkan informasi dengan caraku sendiri. Aku memperhatikanmu, aku melihatmu bercengkerama dengan temanmu dari kejauhan, aku mencari akun medsos mu. Aku betah berlama-lama mengamati setiap status yang kau tulis di facebook dan twittermu. Aku mencuri diam-diam foto-foto di akun mu. Dengan cara inilah aku merasa begitu mengenalmu, walaupun mungkin kamu tidak begitu mengenalku.

Mungkin Aku Tidak Berarti Apa-Apa Untukmu. Tapi Hari-Hariku Selalu Dipenuhi dengan Cerita Tentangmu

Tahukah kamu, aku selalu menceritakan tentangmu ke teman-teman terdekatku. Setiap saat dan setiap waktu aku menceritakan tentangmu ke mereka. Bahkan aku terlihat sangat bersemangat setiap kali bercerita. Sehingga kamu mulai populer di lingkunganku. Tidak hanya aku yang mengenalmu, bahkan teman-temanku sudah banyak yang tahu tentangmu meskipun mereka tak pernah sekalipun bertemu denganmu.

Hanya Melihatmu Saja Sudah Membuatku Begitu Bahagia

Senang rasanya setiap kali melihatmu, meskipun dari jarak yang jauh. Tapi melihatmu sehat dan tersenyum saja sudah membuatku tenang. Ya walaupun senyummu itu tidak ditujukan padaku sih. Tapi mungkin kamu tidak percaya, momen setelah aku melihatmu adalah bahan cerita selanjutnya yang akan ku ceritakan dengan semangat di depan teman-temanku. Begitu pula sebaliknya, jika lama aku tidak melihatmu, aku akan secara diam-diam mencarimu. Aku akan mendatangi tempat-tempat dimana aku sering melihat kau di sana. Sedih rasanya jika di setiap sudut tempat yang sering kamu datangi ternyata tidak ada dirimu. Biasanya aku juga akan menceritakan kesedihan itu ke teman-temanku. Pokoknya, kamu sangat terkenal di kalanganku.

Beberapa Kali Air Mata Ini Tumpah Karenamu

Ada waktu dimana perasaan ini begitu memuncak. Ada waktu dimana rindu ini begitu membuncah. Sampai akhirnya aku merasa tidak sanggup lagi menahan perasaan ini. Perasaan yang sangat membebaniku. Perasaan yang membuatku tidak lagi dapat menikmati hidup dengan cara yang wajar. Akhirnya, air mataku ini jatuh dengan sendirinya. Bukan, bukan karena kamu menyakitiku. Tapi karena aku begitu mengagumi dan merindukanmu.

Obrolan Singkat Kita Terkadang Membuatku Tertawa Sendiri Seperti Orang Gila

Ternyata kamu approve request friend dariku di facebookmu! Sumpah, seneng banget rasanya! Lalu kuberanikan diri untuk chat kamu pertama kali:
“Terimakasih sudah approve”
Lalu kamu pun menjawab
“Oh iya, sama sama :) “
Setelah itu aku memperpanjang obrolan kita dengan pertanyaan-pertanyaan simpel. Seperti menanyakan materi kuliah atau hal-hal seputar kampus. Kamu pun menjawab pertanyaanku dengan sangat ramah.
Tahu gak sih, ini sudah cukup membuatku gila kegirangan! Aku merasa kamu telah mengenalku. Aku merasa kamu telah membuka celah untukku masuk lebih dalam ke kehidupanmu. Walaupun belakangan aku sedikit sadar bahwa itu hanyalah balasan yang biasa-biasa saja darimu. Tapi biarlah! Aku tetap senang, dan berkali-kali aku membaca ulang obrolan singkat kita itu.

Aku Bukan Apa-Apamu, Tapi Aku Menyimpan Cemburu

Aku bukan hanya penggemarmu, tapi aku orang yang diam-diam mencintaimu. Kamu mungkin tidak sadar bahwa ada aku yang selalu mengamati gerak-gerikmu. Kamu mungkin tidak sadar bahwa ada orang yang berkali-kali terbakar cemburu karena ulahmu. Dialah aku. Aku kerap kali cemburu ketika melihat kamu sedang asik bercengkerama dengan sosok perempuan. Aku juga cemburu setiap kali ada perempuan muncul di dinding FB mu, meskipun dia hanya mengomentari statusmu. Bahkan aku cemburu jika kamu berfoto dengan teman-teman perempuanmu. Ya, aku cemburu. Cemburu kepada kamu, yang bahkan bukan siapa-siapaku sampai saat ini.

Aku Ingin Kamu Tau Perasaanku, Tapi Mana Mungkin Aku Mengatakannya

Terkadang terbesit dalam benakku untuk ku tumpahkan saja semua isi hati ini kepadamu. Supaya kamu tahu dan aku menjadi lega. Tapi aku selalu mengurungkan niat itu. Aku takut. Aku terlalu takut untuk sakit hati. Aku malu. Aku malu jika kamu menolakku. Akhirnya, sampai di titik ini, aku masih bersikeras untuk memendam perasaan yang kian hari kian menyiksa. Entah sampai kapan.
Hanya Doa yang Bisa Mempertemukan Kita
Di sini, di sajadah ini, Aku mendoakan banyak hal baik untukmu. Maaf lancang, tapi aku berkali-kali  memintamu kepadaNya. Kepada Dia yang benar-benar memilikimu. Meskipun aku tahu, Ia telah merencanakan yang terbaik untukku dan untukmu yang terurai dalam suratan takdir. Tapi, izinkan aku untuk tidak berhenti memintamu, setidaknya sampai aku benar-benar yakin bahwa kamu bukan ditakdirkan untukku.
Ini adalah perasaan yang tidak mudah kami, seorang wanita. Tapi Bagaimanapun, perasaan ini tumbuh secara alamiah yang tidak bisa dicegah begitu saja. Mungkin ada dari kami yang berakhir dengan bahagia karena cinta itu berbalas, ada yang berakhir pilu ketika perasaan itu tertolak, namun adapula yang sampai kapanpun menjadi misteri tanpa membuat ia tahu bahwa ada seorang perempuan yang secara diam-diam begitu menginginkannya. Apapun ujungnya, beginilah cerita kami. Seorang wanita yang jatuh cinta…

Sabtu, 26 September 2015

Menanti Luka.

Susunan langkah tak beraturan ditrotoar jalan
binatang pengerat kecil berlarian
mengendus ngendus jejak milikmu
yaitu aku,
yang terbenam paruh waktu
jarak bukanlah penentu, katamu
meredam-redam tanya itu bisu
toh bayanganku yang tertawa licik, kau tak pernah tau?
pun cermin yang berdiam polos hanya membahagiakan tangisku
ketika aku terbaring menanti
sebait kisah tawar tak berpenghuni
tiada pengikat janji
mungkin, terbawa lenguh kental malam tadi
mungkin, hanyut keseberang halimun
atau mati dipertengahan
tanyakan saja pada gagak kalau kau mau
karena paruh hitamnyalah yang telah menggrogoti tubuhku
seperti senyummu yang tersamar, pudar
mengejang ngejang akal mencari raut yang terbungkus pigura
didalam setumpuk jerami basah, tak lekang sudah
ha ha ha..
akhirnya lidah kelu berucap, meski setengah pucat
tentang indahnya warna gemerlap penantian
begitu juga sayatan.

Akulah wanita, Pelita Temaram dikala Gulita.

Akulah wanita yang menceritakan indahnya senja
Pada redupnya lentera
Yang menggantung didinding telanjang
Ditiup-tiup angin jalang
Duhai, kemesraan yang sungguh melelahkan
Mencairkan sembilu dalam abad membeku
Menggerus bara ketika dusta menyala
Aku yang buta dibuai pelangi murahan
Milik siluet malam
Hingga bias temaram dari lentera menitik
Mata-mata sinis mendekat
Rangkul lah! kataku,
Permainkan aku sesuka hati
Kupersilahkan hening menaungi
Meski hujan membasahi
Kerikil tajam yang menjadi sandaran tubuh ini
Kan kukagumi khayal itu sepenuh hati
Dirikulah, segala gelap dan sunyi

FYI Guys ~~~

Ini kok tulisan-tulisan blog akhir-akhir ini...
Terkesan lebih mengarah tentang hati yang di lukai ya, terkesan seperti curhatan galau wanita yang patah hati err...
Duhh FYI (For Your Information) ... Klarifikasi dikit ini guys, sang penulis sedang dalam zona aman, fase tertinggi di atas rata-rata orang bahagia tanpa kegundah gulanaan,,,
Hanya sekedar tulisan lepas tak karuan, tapi entahlah, menurutku org yang patah hati akan cenderung berfikir jujur ketimbang saat dia sedang jatuh cinta...
Itulah, cinta tidak buta... Hanya saja dia menutup logika, dan saat dia kehilangannya, barulah kejujuran itu terbuka.
Jadi ya gitu, cuma sekedar klarifikasi, takutnya disangkain ini blog depresi sakit hati .. Dih... 

Teruntukmu, Segumpal Daging Yang Bernama Hati

Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh jasad, jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad, Ketahuilah , dia itu adalah hati.
Hati adalah pusat kehidupan manusia, Hati adalah pusat pengetahuan yang sesungguhnya, Pikiran hanyalah pintu masuk untuk menelaah sesuatu, tapi hakikat sesuatu itu hanya bisa di temukan oleh kecerdasan hati.
Penglihatan mata hanyalah pintu masuk untuk melihat sesuatu, tapai hakekat sesuatu itu hanya diketahui oleh mata hati.
Dan untukmu hatiku, segumpal daging dalam diriku... Izinkan aku mengungai beberapa permintaan maafku untukmu,
Maaf jika seringkali, lagi... Membiarkan orang yang salah datang dan pergi hanya untuk menggoreskan belati dan menyayatmu tipis-tipis tanpa henti...
Maaf jika seringkali orang yang tidak tepat menghujamkan belati ke arahmu dengan bertubi-tubi...
Maaf jika seringkali dia yang kau percayai berulangkali menyakiti dan mengangakan lubang dalam, lagi... Dan lagi.
Maaf jika seringkali kau aku nodai, dengan sebuah abu kotor bernamakan benci, untuknya yang kerap kali menyakiti...
Dan sungguh maafkan aku jika seringkali pintu tertutup rapat ke arahmu, terbuka kembali dengan kunci yang keliru, dan membuatmu terbelenggu lagi.
Bisakah kita berdamai wahai hati?
Bisakah kau dan tuan logika berjalan beriringan, agar tidak lagi dengan bodohnya mereka mempermainkanmu, dan terawa diantara luka tanpa darah merobekmu berkali-kali...
Maukah kau berjuang bersamaku wahai hati.
Menjadikanmu mati, agar tidak lagi kamu tersakiti, terkhianati dan akhirnya di tinggal pergi, kuatlah... Mari kita benahi, sembuhkan semua goresan cakaran atas nama cinta yang berujung memori....

Kamis, 24 September 2015

Aku Sudah Berjuang Sekuat Ini. Apa Kamu Memang Tak Punya Hati ?

Sudah terlalu banyak hal yang rasanya aku tawarkan. setelah selama ini siaga di sisi demi mengusap keringatmu yang datang tanpa permisi.
Perjuangan ini rasanya makin absurd untuk dijalani. Asal kau tau, Jika hati ini adalah kursi kayu panjang, yang telah engkau lengkungkan dan menciptakan banyak retak di atasnya, tanpa mau tahu apa yang ku rasa.
Aku kan sudah bilang kalau aku begini. Kau sudah tahu, Kenapa kamu tidak pergi ?
Oh ayolah. Egois sekali dirimu. Berlindung di balik ke-aku-an yang rasanya tak bisa di tawar lagi.
seakan dengan bilang kau beremgsek dari awal maka aku pasti tak akan sakit hati.
Kau pernah kuperjuangkan sampai menciptakan sembilu yang perihnya terasa sampai hari ini. kini kuputuskan berhenti, aku tak lagi mau jadi opsi. lebih baik aku remuk hari ini, dari pada terus berjuang demimu yang tak punya hati.

Impian bisa menggenapkanmu sudah ku akhiri. rasanya kau juga tak perlu tahu, pernah ada gadis yang sedalam itu mencintai.
Pernah ada gadis yang cintanya menaungi serimbun itu. Berulang ranting teduhnya hendak dipangkas namun ia tak sampai hati, bercericit cemas. Lalu duduk lemas.
Kau juga tak perlu tahu betapa banyak air mata dan harga darinya tergadai.
Berenang dalam matanya, cobalah berjalan di hatinya jika bisa.
Kau akan bisa menemukan jejakmu dimana-mana.
Setiap kali mengecup punggung tanganmu, ada haru yang muncul di hati yang dulu milikmu. 
Sedang ia, menatap matamu saja tak mampu. takut pancar bening lain terpantul disitu.
Gadis yang sama kini memilih dengan gagah, ia berhenti bermimpi bisa menggenapkanmu, patah arang.

Sering-seringlah menyakitiku, kau toh tak peduli'kan jika hati ini berdetak keras karenamu?


Sering-seringlah menyakitiku, sayang,
kau sudah lebih dari tahu kalau hatiku, tak lebih dari sebuah kursi kayu rapuh yang menunggu waktu patah dan berhenti punya guna, yang sudah tak lagi berwujud di mata manusia.
Selama masih bisa kau atur dudukmu miring sedikit, geser kanan kini bergantian tiap detik aku pasti masih kuat bertahan, dan kau sayang... sudah memperhitungkannya lebih dulu.
kemari, coa kulihat kertas burammu, aku penasaran atas ekuasi handal sampai kapan nyeri ini sanggup ditahan.
Hingga ... " Kraaakkkk !!! Dua ia terbelah, dan menganga
Lalu, kau segera beranjak, berinsut pindah.

Waktu membuat makin banyak peran di hidupku yang kau mainkan. Tapi bukan berarti lalu kau tak bisa ku tinggalkan.
Denganmu aku sudah bermain gengsi, jatuh cinta, patah hati, hati dan beci, tapi ujung-ujungnya jatuh cinta lagi. Denganmu, aku menjelma jadi gadis kecil manja yang minta diusap saat sakit, atau wanita dewasa yang menyapu kamar dan memasak tanpa diminta. Dalam jejak kecil kita, aku hanya ingin sebaik-baik wanita. Agar kamu bangga dan bahagia, meski kebiasaan buruk dan kecerobohanku terus kau baca, tapi kasih terus bersedia.
sekian lama kita bersama, kau memang menjelma menjadi kekasih, kakak, sahabat, teman diskusi, dan bahkan rekan bertengkar. Aku mencintaimu tanpa banyak minta, tak pernah terbesit kompirasi dengan pria lain di luar sana.

Sesekali kau menemukanku merengek manja, minta di temani kemana-mana atau minta kau membuka lengan agar dadamu bisa jadi rumah tempatku pulang dan meletakan kepala. mengetahui fakta bahwa aku membutuhkanmu boleh membuatmu bangga. tapi bukan berarti tanpa kehadiranmu, hidupku tak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Kehilanganmu jelas membuatku mati rasa sementara. Namun aku bersumpah, selepas limbung beberapa saat lamanya kau akan menemukanku melenggang seperti biasa. Aku bertahan.
perlakuanmu selama ini membentukku jadi pejuang.

Aku pergi, Kini rasakanlah bagaimana lelahnya menghadapi hidup seorang diri. Asal kau tau, kenop ke hatiku sudah diganti, kau tak bisa masuk kedalamnya lagi.

Kata Orang, Cara Terbaik untuk menghargai arti sebuah rumah adalah dengan meninggalkannya.
Pergi, membuatmu lepas dari cangkang yang bernama kenyamanan. memaksamu tangguh menghadapi dunia tanpa perlindungan.
Di luar, satu-satunya cara yang tersedia hanyalah berjuang. mengerahkan seluruh kemampuan agar kamu tetap hidup. Belajar Bertahan.

Kau Tahu, mungkin kita hanya terlalu jengah setelah menghirup udara yang sama. kau dan aku lupa kita saling membutuhkan
Tak perlu lagi kugapai engkau jauh-jauh. Sebab kau sedekat pembuluh. Untukmu, aku sudah seperti nafas, hingga ringan rasanya aku terhenpas. Kau dan aku seperti dua petualang yang kelelahan. kita butuh meluruskan betis sebelum langkah kembali di ayunkan.
Aku juga takut kedinginan, enggan rasanya keluar dari hangat ruangan, untuk kemudian menggigil . sendirian. Tapi dekapmu tak akan kuhargai, sebelum aku tahu repotnya harus memeluk diri sendiri. kamu tak akan menghayati rasanya di dampingi. Sebelum pijatan di bahumy tak lagi mudah di temui.

Rasakan. Rasakan bagaimana lelahnya menghadapi hidup sendiri.
Nikmati. Nikmati hari-hari penat tanpa pijatan ketika keringatmu menetes deras tanpa ada yang menghentikan.
carilah rumah kontrakan, tempat singgah baru.
lalu hayatilah, apakah ia bisa melelapkanmu seperti aku?
Bisakah ia merawatmu tanpa banyak gerutu, memastikan semua bersih dan rapih sebelum kau kembali membuka pintu?

Rumah ini perlu dibenahi dulu, Catnya butuh diganti baru, lampu beranda juga sudah terlalu redup untuk kita santai duduk di depan pintu.
Sebelum kita benar-benar berkemas. ingin kubisikkan kata pamungkas pelan-pelan di telingamu,
"Kunci kenop pintu itu sudah kuganti selamanya. Kau tak lagi bisa seenaknya membukanya kapan saja "

Selasa, 22 September 2015

Istana Kokoh itu akhirnya Roboh ~

Dimana kau kini, aku berselimbut sepi
Menangis memanggil namamu,
Kemana harus kucari, saat rindu membunuhku.
Senandung lirih cintaku..
Jatuh berderai, sakit terasa pilu.
Teganya dirimu, sentuh aku dengan cintamu,
Secepat itu, dan kini kau berlalu
Hei boy, datang dan pergi sesukamu...
Duhh ini hatiloh bukan jalan tol...
Setelah setengah mati aku hidup dalam belenggu kelam sakitnya pengkianatanmu,
Tapi anehnya maaf slalu terlontar indah dari bibir manisku, dan senyum getir ku slalu dengan siap menyambutmu...
Betapa ketidakadilan kentara disini,
Kau datang, aku memaafkan..
Kau rindu, aku slalu untukmu...
Aku butuh, kau pergi...
Aku rindu, kau bersamanya...
Betapa lucu hidup ini,
Ketika sang cinta menderita dengan segala rasa sakit yang dia rasa...
Sang pangeran kegelapan tertawa bersama dayang-dayang di sampingnya...
Tuhan mengapa kau diam,
Melihat tangis pilu berbungkus luka menganga,
Terinjak tawa iblis penuh rasa bangga.
Tuhan, yang maha pembangun dan perusak istana hati seorang insan..
Beli kejaiban untuk mereka bertukan peran,
Agar si pangeran kejam merasakan sakitnya pengkianatan yang ia lakukan.
Tuhan, yang maha pembangkit hati yang telah mati....
Jadikan penjara suram di kalbu sang putri menjadi taman indah betabur bunga..
Kubur smua rasa sakit dan penderitaan batin yang setiap hari membuatnya terpuruk,
Hapus semua tetesan suci di kedua pelupuk matanya...
Menjadi sebuah berlian kebahagiaan tanpa akhir...
Izinkan puing-puing roboh itu kembali terbangun menjadi sebuah istana kokoh yang tegak berdiri kembali, bersama seorang pangeran sejati, dan biarkan mereka hidup bahagia, selalu... Selamanya ....

Sabtu, 19 September 2015

Happ... Happ... Mari Merantauu ~~~

27 Juli 2015
Palu, Sulawesi Tengah.
Selamat tinggal sukabumiku,
Sang kota kecil yang menyimpan banyak cinta, keluarga, sahabat, dan berjuta kenangan.
Tenang, ini hanya sementara.
Bukankan hidup pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan,
Sudah waktunya keluar dari zona nyaman dengan berbekal pelukan hangat, dan tangis haru saat orang-orang tercinta itu melepas kepergianku.
Tunggu aku pulang dengan tawa bahagia dalam menyambutku, karna doa kalian selalu hadir dalam nadi kemanapun aku pergi.

Ketika sang akal dan hati berargumen.

Harusnya aku menyerah,
Tetap diam di zona nyaman yang aku kehendaki.
Tapi hidup tak sebercanda itu,
Kita butuh hitam untuk kita lunturkan menjadi putih.
Pelaut butuh ombak besar untuk membuatnya kuat.
Kalo hanya di terpa masalah seperti ini dan aku tersungkur jatuh,
Apa bedanya aku dengan pengemis yang meminta tanpa usaha,
di saat aku bisa menjadi pengusaha muda dengan lebih berkarya.
Sakit hati hal yang biasa, Menyesak kan memang.
Tapi smua akan menjadi pengalaman berharga jika esok kita mengingatnya...
Saat terjatuh, untuk berdiri saja aku terseok-seok, bagaimana aku bisa kembali berlari menggapai mimpi yang sempat terhenti,
Selain menangis aku bisa apa?! Ucap sang akal sinis melihat istana hati yang terkoyak porak poranda...
Ayolah, jika kita bisa berdamai dengan keadaan,  menerima kenyataan atas pengkhianatan dengan senyuman.
Hari bahagia esok tergenggam di tangan.

Jumat, 06 Maret 2015

AKU ~

"Kawan, Aku bukanlah
 seperti apa yang kau lihat di permukaan.
Apa yang kau lihat sebenarnya tak lain
hanyalah selimut tipis yang disulam
dari jaring kelembutan dan kebaikan.
Aku mengenakannya agar engkau tidak menyepelekanku
dan untuk menutupi kelemahan serta kealpaanku darimu.
Sedangkan diri sejatiku yang 'agung' yang kusebut 'Aku'
adalah rahasia yang tersimpan
di dasar lubuk jiwaku yang tak seorangpun tahu selain diriku.
Begitulah,
Ia akan senantiasa menjadi Rahasia selama-lamanya.

Khalil Gibran

Sekarang...

Sekarang... waktu yang sedang kujalani...
Waktu yang setiap saatnya kucoba nikmati...
Baju berbahan panas, sepatu yang tinggi dengan runcingan hak nya, tas yang ku pegang di tangan, dan olesan make up menemani pagi sampai siangnya hariku,
Dan kini aku mulai terbiasa dengan smua itu..  celana jeans lapuk, kaos memble, sendal karet dan tas selempang itu kini teramat jarang ku kenakan, dan tak lagi kurindukan...
Aku menikmati hari, serta hidupku yang sekarang ~



Rabu, 04 Maret 2015

Sepenggal Sajak Cinta~


Ruang cinta aku berdayakan
tapi waktunya lepas dari jangkauan
Sekarang aku menyadari
usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
Khazanah budaya percintaan…
pacaran, perpisahan, perkawinan
tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta
Dan kini syairku ini
Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu
Syair bermula dari kata,
dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
lepas dari daya korupsi manusia
Demikianlah maka syairku ini
berani mewakili cintaku kepadamu
Cintaku kepadamu telah mewaktu
Syair ini juga akan mewaktu
Yang jelas usianya akan lebih panjang
dari usiaku dan usiamu

WS.Rendra


Selasa, 30 September 2014

Let Me Introduce My Self ~



Aku Bukanlah aku yang kalian lihat di permukaan..Selimut tebal itu menutupi hati rapuhku ....
Lets Ce Ki Dot About Me ...
1. My Name Is Indri. But you can call me iin ~ Nama yang sederhana untuk hidupku yang sederhana..
2. 300993 ~ Tanggal cantik, saksi lahirnya gadis cantik ini *gibas poni
3. Cnounnapanda.. User name di berbagai jejaring sosial, karna aku panda adict.. ngoleksi berbagai aksesoris bertemakan panda (walau sebagian besar dari pemberian orang)
4. Hallyu Aktif, Sejak beberapa taun mendadak jadi pecandu Kpop style, baik itu genre musik dan mengoleksi ratusan drama korea, alhasil kuat sehari semalem nangkring depan leptop buat mewek bombai nnton drama yang mellow, ato ngakak ampe sakit perut nnton Running Man (Salah satu program reality show korea dari eps 1 ampe eps yang terbaru di uber terus saking sukanya)
5. Kekanak2an, Bawel. Ceria, Centil dan Pecicilan, Kalo ngomong gabisa diem ~ Mungkin Seperti itulah karakterku di luaran, padahal kalo di rumah lebih cenderung ngdadak jadi anak gadis yang pendiem, dan jarang bersosialisasi sama keluarga, karna terlalu sibuk ngurung diri di kamar.
6. Humoris dan Gak mudah tersinggung, tapi sekalinya udah masuk kena hati.. udah deh aku jadi tipe orang yang pundungan, cepet marah, moodboster dan gabisa di tanya seharian.
7. Males, lelet, gasuka beresin kamar, jorok, dan setumpuk kebiasaan jelek lainnya yang gabisa di jelasin satu persatu.
8. Phobia sama hewan berkumis yang disebut kecoa, bisa ampe nangis kaya orang kesurupan, ilang kesadaran, jatoh dari pager karna di jailin sama binatang itu pernah juga T.T
9.Gasuka di Cuekin dan di suruh nunggu.. Cukup aku ajah yang bikin kalian nunggu .. ahahaha *tertawa jahat
10. Punya ibu dua, dan itu menyenangkan ~
11. Pengidap Penyakit NAE (Narsis Anytime Everywere) Akut .. dan penyampah di beranda orang dengan status dan foto-fotoku
12. Terlalu Naif, terkadang dimanfaatkan oleh keadaan.
13. Kalo udah suka ya kejar.. Bosen? ya Tinggalin. Karna setia itu tabu menurutku, terkecuali aku tlah menemukan orang yang membuatku berhenti mencari .. *Pake kacamata
14. Gasuka Kecap dan kurang menyukai makanan manis
15. Di Juluki Tiang Listrik, bahkan zaman SMA dapet julukan Kutilang Darat (Kurus tinggi langsing, dada rata ) Mengenaskan -_____-
16. Perusak barang dengan baik ... Ceroboh is my hobby ..
17. Bercita-cita menjadi seorang reporter.. Malah kesampaian jadi Guru
18. Melihara banyak kucing di rumah dan rata-rata di beri nama mantan.
19. Sedikit Yadong, Ngebias sama Hyuna 4Minute.. Bahkan suka mengikuti Gaya dan ekpresi genit manja menggodanya,,, hahahha *Wink ;)
20. Nama Belakangku adalah Komariyah ~ Diambil dari bahasa arab yang berarti bulan... Aku suka bulan, dia bersinar menerangi benda2 sekelilingnya, tapi pada dasarnya bulan tidak bisa menghasilkan cahayanya sendiri, cahanya nya merupakan pantulan dari benda-beda di sekelilingnya... begitupun aku.. yang takkan bisa tersenyum seceria ini, dan tidak ada apa-apanya tanpa kalian.. orang2 yang aku cintai dan mencintaiku ~ *dadah2 ala miss Univers ~

Rabu, 23 Juli 2014

Karna aku Memilikimu, Dari kehilanganku di masalalu ..

Cinta itu... Ibarat kupu-kupu...
Semakin kau kejar.. semakin jauh pula ia akan terbang..
Tapi jika kau membaskannya..
Ia akan menghinggapimu, kapan saja, dan pada siapa saja,
Bahkan tanpa kau sadari..
Saatku palingkan diri dari cinta,
Saat kepercayaan tentang cinta perlahan memudar.
Saat aku tak ingin memiliki, karna takut kehilangan..
Saat harapku berbatas karna terlalu sering terkecewakan keadaan..
Enkau hadir...
Memecah logikaku untuk bertarung melawan rasaku..
Semoga kita di pertemukan atas nama jodoh, dan di pisahkan atas nama takdir..
Untukmu yang hadir atas nama cinta,
Biarkanlah kisah kita mengalir, 
Dan berlabuh pada mahligai yang indah, 
Tepat pada waktunya :')


Selasa, 08 Juli 2014

Aku berpura-pura kuat, di saat aku benar-benar rapuh..


Aku ahli bersandiwara, selalu tertawa.. Padahal aku pincang menahan luka.dan pada akhirnya ada saatnya aku lelah untuk terus berpura-pura..Ada saatnya aku ingin menangis dan berteriak sejadi dan semampuhku...Ada saatnya aku letih dalam menanjaki bukit terjal penuh liku dalam hidupku..Bahkan ketika aku lelah menjalani semuanya, aku tak punya sandaran tempatku berbagi..Aku sadar, bahwa aku hanya seorang diri..Aku tak punya siapa-siapa yang bisa ku andalkan selain diriku sendiri...Banyak luka tertoreh di hati namun tak bisa terobati...Aku lelah tuhan... Rasanya, Inginku Menyerah.. Disini, Saat ini...Senyum dan tawaku di depan mereka, adalah selimbut tebal hati rapuhku..